Sabtu, 10 Juni 2017

Fokus Kedepan



Assalamualaikum wr wb

Bulan Ramadhan tahun ini, adalah tahun pertama kakang berlatih puasa. Jauh hari sebelum hari pertama ramadhan, kakang semakin antusias dengan memberi berbagai pertanyaan tentang ramadhan. Hari pertama puasa dan saur, Alhamdulilah kakang bisa diajak kerjasama untuk bangun saur, tidak ada drama atau bermalas untuk bangun. Saya ajak makan, dia menuruti untuk makan, saya bimbing dia untuk membaca niat puasa, dan saya mengingatkan dia untuk banyak minum air putih.

Hari pertama dia sanggup puasa sampai dzuhur.
Hari kedua sampai ke empat Alhamdulilah sampai magrib. Saya atur kegiatan dia selama berpuasa, menghindari permainan outdor dan diwajibkan tidur siang. Drama dimulai dihari ke empat, tiba tiba dia ingin bermain sepedah disiang hari.
Kakang :”Bunda aku mau main sepedah ya sebentar kok “
Bunda : “ Boleh, berapa menit ? “
Kakang :”lima menit “
Bunda : “ baiklah “

Setelah bunda menunggu sekitar 10 menit,” kok kakang tidak pulang kerumah ya “,,ucapanku dalam batin.
tiba tiba dia datang dengan wajah yang lelah, kepanasan, dan menaikkan oktaf suaranya
kakang :”bunda aku haus !!, boleh minum gk?, aku capek “,,,,semakin teriak dan seperti ingin menangis.

Hemmm disini saya harus lebih fokus ke depan, terkadang saya ingin berkata “ suruh siapa main sepeda siang siang, mana lagi puasa kan, jadi haus deh, mau batalin sekarang memang! “,,,,,tidak tidak, saya tidak boleh berkata seperti itu, saya harus fokus ke depan memecahkan tantangan ini.

Dengan wajah yang tenang, dan bahasa yang lemah lembut.
Bunda :” masih bisa tahan sampai azan dzuhur ? “, kebetulan jam menunjukkan pukul 11.30
kakang : “ enggak bisa, aku haus banget “
Bunda : “ kok bisa haus ?”
kakang :”iya aku sepedahan, kepanasan, jadi haus “, dia menyadari sebab akibat yang telah dilakukannya. Dalam situasi ini saya mencoba menahannya untuk sampai azan dzuhur. saya memcoba bertanya aktifitas kemarin seperti apa, sehingga dia bisa tamat sampai magrib.
Bunda :” Baiklah boleh berbuka sekarang, silakan minum !,,,semoga besok bisa sampai magrib lagi ya !”.
Kakang mengambil gelas dan mengisinya dengan air, lalu dia minum seperti orang yang kehausan.
kakang :”aku minta maaf ya bun, puasanya batal “
Bunda :” tidak apa apa kakang, puasa kakang bukan untuk bunda, puasa kakang untuk kakang sendiri, sebagai nilai takwa kepada Allah Swt, dan tiket untuk kakang sendiri menuju surga, tidak apa apa kakang kan masih berlatih, orang yang berlatih ada masanya dia berhasil, atau belum berhasil, tetap semangat ya, semoga besok puasanya sampai magrib “

Semoga apa yang saya bicarakan, bisa dipahami kakang. Love u kakang

Tangsel, 10 Juni 2017


#level1
#Day9
#Tantangan10hari
#Komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mastermind & False Celebration

  Assalamualaikum wr wb Jurnal terakhir di Bunda shalihah, saat nya kami melakukan false Selebration dan memaparkan mastermind.  Berikut ini...