Assalamualikum wr wb
Berikut saya review diskusi kelompok kelas bunda sayang level 11.
Kami dari kelompok 1 dengan anggota:
π· @πIndrianita Wenty
π· @qathrunnada
π· @mba wulan(azam)
π· @Lafrania Tfk
π· Popi Rosepti
Akan mempresentasikan materi pertama dengan topik "Pentingnya Peran Keluarga dalam Menguatkan Fitrah Seksualitas Anak"
π· @πIndrianita Wenty
π· @qathrunnada
π· @mba wulan(azam)
π· @Lafrania Tfk
π· Popi Rosepti
Akan mempresentasikan materi pertama dengan topik "Pentingnya Peran Keluarga dalam Menguatkan Fitrah Seksualitas Anak"
Kalau membahas fitrah seksualitas memang tidak pernah ada matinya ya, terutama di zaman sekarang dimana isu-isu transgender dan LGBT mulai berkembang.
Dan kita sebagai orang tua tentu sulit menafikan hal tersebut, oleh karena itu di sini kami akan mengangkat topik bagaimana kita mengambil peran pada anak kita sendiri guna menjaga anak-anak kita dari pengaruh-pengaruh negatif tersebut.
Dan kita sebagai orang tua tentu sulit menafikan hal tersebut, oleh karena itu di sini kami akan mengangkat topik bagaimana kita mengambil peran pada anak kita sendiri guna menjaga anak-anak kita dari pengaruh-pengaruh negatif tersebut.
Kami mengambil tema umum terkait peranan orang tua karena kami sadar bahwa bagaimanapun sosok orang tua adalah sosok terdekat dan sosok yang dikenal anak untuk pertama kalinya dalam kehidupannya.
Apa itu fitrah seksualitas?
Menurut harry Santosa, Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. Dan untuk menguatkan fitnah seksualitas pada anak, sangat dibutuhkan peranan dan ikatan dengan ayah dan ibunya.
Sedangkan menurut lembaga koalisi perempuan, menyebutkan istilah lain yaitu sosialisasi gender. Sosialisasi gender adalah suatu proses belajar menjadi perempuan dan menjadi laki-laki dalam pengertian: apa saja peran utama perempuan dan peran utama laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku.
Lalu seberapa penting fitrah seksualitas perlu dibangkitkan?
Kami yakin bahwa kita semua sepakat bahwa menguatkan fitrah seksualitas adalah sangat penting, karena jika fitrah ini tidak dikuatkan sejak kecil, maka dikhawatirkan kedepannya bisa terjadi penyimpangan yang membuat anak mengalami gangguan dalam memahami identitas dirinya, terjadi penyimpangan orientasi seksual, dan masalah terhadap lingkungan sosialnya.
Tantangan yang dihadapi terkait gender
1. Pemahaman orang tua tentang fitrah seksualitas yang masih rendah. Dan kurang terbentuknya bonding dengan anak. Hal ini bisa menyebabkan peran gender yang harusnya di edukasi sejak dini tidak tersampaikan sehingga membuat missing link pada anak tentang pemahaman dirinya terkait gendernya sendiri. Padahal memahamkan dan memberikan contoh terkait peran gender ini harusnya menjadi tanggung jawab para orang tua.
Selain itu para orang tua masih belum terbuka dan malu-malu dalam menyampaikan informasi terkait pendidikan seks pada anak padahal pendidikan seksualitas bukan hanya bicara tentang seks semata tapi juga menyangkut hal lain yg lebih luas misalnya tentang peran gender dan anggota tubuh yg perlu dilindungi dari kejahatan seksual.
2. Teknologi yang terus berkembang
Terutama dalam hal arus informasi yg sangat cepat dan banyak. Jika orang tua tidak memberikan bimbingan dan tidak membersamai anak dalam menyaring informasi maka bisa jadi anak menemukan informasi yang salah terkait peran gender. Apalagi sekarang banyak pemikiran sekuler yang keluar jalur dan membuat fitrah seksualitas menjadi abu2.
3. Kurangnya edukasi tentang penguatan peran gender di lingkungan anak
Bukan saja orang tua yang bertanggung jawab tapi juga lingkungan sekolah, tetangga, lingkungan bermain harusnya bisa bersinergi untuk menguatkan peran seksualitas anak.
Solusinya
Orang tua sebagai sosok terdekat dengan anak harus bisa membangun bonding dg anak jika bonding sudah terbangun maka akan lebih mudah mengajarkan anak untuk belajar tentang peran genderny. Misalnya tentang bagaimana bersikap layaknya laki2 dan perempuan. Ayah bisa mengajak anak laki2nya sholat jumat atau sholat berjamaah di masjid. Ibu pun mulai mengajarkan anak perempuannya pelan pelan menggunakan jilbab, aurat, cara bersikap dsb.
Sejak anak masih kecil, orang tua harus bisa membangun bonding antara orang tua dan anak. Ayah dan ibu harus sama-sama berperan. Ketika kecil, biasanya anak-anak lebih dekat dg ibu. Nah, alangkah baiknya keterlibatan ayah juga jangan dilupakan. Terutama anak laki-laki harus punya kedekatan dengan ayah karena anak belajar peran jenis kelamin dari ayah mereka. Dengan dekat pada ayahnya, anak laki-laki belajar tentang peran gender laki-laki. Dari ayah, anak bisa belajar aspek maskulinitas seperti kemampuan berpikir logis, berani, menghadapi tantangan dll. Anak laki-laki pun juga harus dekat dengan ibu terutama ketika anak sudah memasuki usia 10-14 th. Dari ibu anak laki-laki bisa belajar tentang kemampuan belajar empati, bersikap penyayang, dll. Kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak laki-laki ketika ia kelak menjalankan peran dirinya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
Seorang ayah juga harus dekat dengan anak perempuan, karena seperti banyak quote berkata.. Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Terkadang sosok ayah menjadi acuan bagi anak perempuan dalam memiliki pasangan hidupnya. Dan kalau anak perempuan mendapatkan perhatian yang cukup dari ayahnya.. Maka kemungkinan dia tidak akan mudah melakukan perbuatan menyimpang dan mencari-cari perhatian dari laki-laki lain yang kadang bisa berdampak negatif bagi dirinya sendiri.
Jadi, itulah sebabnya kenapa memperkuat bonding antara ortu dan anak itu sangat penting. Kedekatan anak dengan orang tua akan menjadi pijakan awal bagi anak dalam mengenali dirinya sendiri dan dalam membangun hubungan dan komunikasi yang baik dg ortu mereka hingga mereka dewasa.
Selain itu orang tua bisa berperan aktif dalam memberikan informasi di media sosial tentang pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas pada anak sehingga informasi positif makin tersebar dan makin banyak orang tua yang sadar tentang urgensi menguatkan peran gender pada anak-anak.
Orang tua juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mau memberikan pengawasan dan penyuluhan terkait peran gender pada anak didiknya.
Media edukasi
Media edukasi yang bisa dipakai orang bisa berupa cerita dari buku bergambar, nyanyian, dan video edukasi karena anak-anak cenderung tertarik pada sesuatu yang bersifat visual.
Orang tua sebagai sosok terdekat dengan anak harus bisa membangun bonding dg anak jika bonding sudah terbangun maka akan lebih mudah mengajarkan anak untuk belajar tentang peran genderny. Misalnya tentang bagaimana bersikap layaknya laki2 dan perempuan. Ayah bisa mengajak anak laki2nya sholat jumat atau sholat berjamaah di masjid. Ibu pun mulai mengajarkan anak perempuannya pelan pelan menggunakan jilbab, aurat, cara bersikap dsb.
Sejak anak masih kecil, orang tua harus bisa membangun bonding antara orang tua dan anak. Ayah dan ibu harus sama-sama berperan. Ketika kecil, biasanya anak-anak lebih dekat dg ibu. Nah, alangkah baiknya keterlibatan ayah juga jangan dilupakan. Terutama anak laki-laki harus punya kedekatan dengan ayah karena anak belajar peran jenis kelamin dari ayah mereka. Dengan dekat pada ayahnya, anak laki-laki belajar tentang peran gender laki-laki. Dari ayah, anak bisa belajar aspek maskulinitas seperti kemampuan berpikir logis, berani, menghadapi tantangan dll. Anak laki-laki pun juga harus dekat dengan ibu terutama ketika anak sudah memasuki usia 10-14 th. Dari ibu anak laki-laki bisa belajar tentang kemampuan belajar empati, bersikap penyayang, dll. Kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak laki-laki ketika ia kelak menjalankan peran dirinya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
Seorang ayah juga harus dekat dengan anak perempuan, karena seperti banyak quote berkata.. Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Terkadang sosok ayah menjadi acuan bagi anak perempuan dalam memiliki pasangan hidupnya. Dan kalau anak perempuan mendapatkan perhatian yang cukup dari ayahnya.. Maka kemungkinan dia tidak akan mudah melakukan perbuatan menyimpang dan mencari-cari perhatian dari laki-laki lain yang kadang bisa berdampak negatif bagi dirinya sendiri.
Jadi, itulah sebabnya kenapa memperkuat bonding antara ortu dan anak itu sangat penting. Kedekatan anak dengan orang tua akan menjadi pijakan awal bagi anak dalam mengenali dirinya sendiri dan dalam membangun hubungan dan komunikasi yang baik dg ortu mereka hingga mereka dewasa.
Selain itu orang tua bisa berperan aktif dalam memberikan informasi di media sosial tentang pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas pada anak sehingga informasi positif makin tersebar dan makin banyak orang tua yang sadar tentang urgensi menguatkan peran gender pada anak-anak.
Orang tua juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mau memberikan pengawasan dan penyuluhan terkait peran gender pada anak didiknya.
Media edukasi
Media edukasi yang bisa dipakai orang bisa berupa cerita dari buku bergambar, nyanyian, dan video edukasi karena anak-anak cenderung tertarik pada sesuatu yang bersifat visual.
SESI TANYA JAWAB :
1⃣ Yesi
Terimakasih, atas sajian materi nya kelompok 1, saya ingin bertanya, bagaimana kriteria khusus untuk pilihan media buku bergambar yg di gunakan untuk membangkitkan fitrah seksualitas anak? adakah referensi yg kelompok 1 rekomendasi kan?
Terimakasih, atas sajian materi nya kelompok 1, saya ingin bertanya, bagaimana kriteria khusus untuk pilihan media buku bergambar yg di gunakan untuk membangkitkan fitrah seksualitas anak? adakah referensi yg kelompok 1 rekomendasi kan?
untuk media edukasi bagi anak balita berupa video dan nyanyian, bisakah diberikan link atau referensinya.
Jawab :
Untuk media buku bergambar, saya pernah membacakan buku anak berjudul "menjadi anak yang berani" dari penulis Watiekideo. Bukunya sebenarnya fokus pada bagaimana anak berani melindungi dirinya sendiri. Namun, disana juga dijelaskan beberapa bagian tentang perbedaan gender. Misalnya kalau ke toilet, ada yg namanya toilet laki2 dan perempuan. Bahwa laki2 dan perempuan itu berbeda dari cara berpakaian..dsb. Mungkin sebagai salah satu rekomendasi, bisa coba bacakan buku tersebut ke anak.
2⃣ ismi suryati
Bagaimana jika ayah bekerja diluar kota. Pulang hanya 1 bulan sekali. Bagaimana menjalin kedekatan dengan anaknya dalam jarak jauh. Agar nantinya tidak terjadi penyimpangan, seperti yg dijelaskan diatas??
Jawab:
Mb ismi, pasti jadi kendala sendiri ya jika anak tidak bertemu langsung setiap hari dengan ayah.. Tapi bukan berarti peran ayah tidak bisa dijalankan. Bagaimana caranya agar sosok ayah tidak "hilang"? Pertama, bisa dengan mengenalkan sosok laki2 terdekat dalam keluarga. Entah itu kakeknya atau omnya. Jadi ibu bisa bekerjasama dengan sosok tersebut untuk membantu mengenalkan identitas dan sosok laki2 pada anak2.
Yg kedua, kita hidup di teknologi yg berkembang pesat. Ajak ayah setiap hari berkomunikasi lewat teknologi yg ada. Bukankah sekarang ada video call, telpon dsb? Bisa manfaatkan itu untuk Merekatkan hubungan antara ayah dan anak.. Jangan sampai jarak yang jauh menjadi kendala membangun bonding, karena yg selalu dekat pun juga tak menjamin bisa terbangun bonding. Yang penting selalu ada waktu berkualitas untuk berbincang dengan anak.
Yang ketiga, setiap ayah pulang, ayah harus memaksimalkan waktunya untuk beraktivitas Bersama keluarga. Entah liburan, merancang aktivitas bermain, berbincang dsb
Yang ketiga, setiap ayah pulang, ayah harus memaksimalkan waktunya untuk beraktivitas Bersama keluarga. Entah liburan, merancang aktivitas bermain, berbincang dsb
Bisa juga dengan menemani anak bermain mobil-mobilan, robot-robotan, mengajak anak bersosialisasi dengan lingkungan sambil kita jelaskan ada teman laki-laki dan teman perempuan, serta berkomunikasi dengan ayahnya lewat video call dan saling bercerita.
Percayalah bahwa doa orang tua itu diijabah Allah. Jadi ayah bunda jangan lupa mendoakan anak2, terutama jika ayah sedang jauh dari keluarga. Mudah2an doa tersebut juga yang ikut membantu anak senantiasa terjaga fitrahnya.
Walaupun sebenarnya kedekatan secara fisik sangat dibutuhkan anak, namun ada kondisi2 tertentu yg mengharuskan untuk berjauhan.
Walaupun sebenarnya kedekatan secara fisik sangat dibutuhkan anak, namun ada kondisi2 tertentu yg mengharuskan untuk berjauhan.
4⃣ Yani
Izin bertanya, bagimana utk anak yg sudah tdk memiliki Ayah/Ibu sejak kecil ? apa yg harus dilakukan sekitarnya ?
atau bahkan si anak ketika sdh dewasa ? krn bs jd tanpa sadar kebutuhannya anak bonding dgn Ortu sgt kurang
Jawab:
sudah dibahas sedikit di no 2, bisa dikenalkan dengan keluarga terdekat, seperti paman/kakek/nenek/bibinya. supaya anak tidak kehilangan sosok "ayah" dan "ibu" yang penting dalam perkembangannya
PENUTUP
Wahai Ayah, tuntunlah anakmu untuk memahami peran sosialnya, bangkitkan rasa percaya dirinya, sehingga kelak mereka siap menjadi imam bagi keluarganya.
Wahai Bunda, jadilah wanita terhebat pertama yang dikenang anak perempuanmu dalam peran seksualitas keperempuanannya.
“Jangan pernah berhenti untuk terus mencari ilmu agar siap menghadapi berbagai tantangan yang muncul terkait fitrah seksualitas pada anak dimasa mendatang”
Akhir kata, fitrah seksualitas mungkin nampak sederhana namun ini amatlah penting dikembangkan dan dikuatkan sedini mungkin. Karena bahwasannya, jika fitrah seksualitas mereka tidak rampung di waktu kecil maka akan berdampak negatif di masa dewasanya.
Semoga kita semua menjadi orang tua yang mampu menjalani peran tersebut pada anak-anak kita. Bismillah ❤❤❤
Semoga kita semua menjadi orang tua yang mampu menjalani peran tersebut pada anak-anak kita. Bismillah ❤❤❤
Terima kasih teman-teman semua atas kehadiran dan partisipasinya. Mohon maaf untuk kelebihan waktunya π
Kami selaku pemateri, atas nama:
Indrianita Wenty
Qathrunnada
Lafrania
Wulan Agustina
Popi Rosepti
Mohon maaf untuk segala kekurangan yang ada. Semoga berkah dan bermanfaat π
#Day1
#Tantangan10HariIndrianita Wenty
Qathrunnada
Lafrania
Wulan Agustina
Popi Rosepti
Mohon maaf untuk segala kekurangan yang ada. Semoga berkah dan bermanfaat π
#Day1
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas



Tidak ada komentar:
Posting Komentar