Sabtu, 26 Mei 2018

Day10 Level11

Assalamualikum wr wb

Berikut saya review diskusi kelompok 10 kelas bunda sayang level 11.

🌻 Assalamu'alaikum ibu-ibu sholihah semuanyaa 🌻

Izinkan kami *Kelompok 10* _the last group_ yang terdiri dari:
πŸ”…Fasta
πŸ”…@⁨Nika Yunitri⁩
πŸ”…@⁨erna leri⁩
πŸ”…@⁨AjengCiki @jejakimani⁩

_sharing_ terkait materi presentasi

_*Percaya Diri Mendidik Seksualitas Anak di Era Digital*_

( Materi )


TANYA JAWAB

1⃣ Yani
Mba, bagaimana ya menjelaskan ttg seksualitas kepada anak sesuai usia, krn kan selama ini dianggap tabu ya... adakah referensi yg bs digunakan?
Jawab :

Terima kasih mba Yani utk pertanyaannya.

Sblm menjawab, izin menyamakan pengertian seksualitas ya.

Seksualitas bknlah tentang seks, melainkan dapat berupa pengenalan gender, pemahaman pubertas.

Pengenalan gender dpt dilakukan sejak usia dini spt: Adik perempuan spt Ibu, kl pipis di toilet perempuan ya.

Pemahaman pubertas misal kita bs masuk ketika anak2 bertanya.
"Ma, knp di ketiak Mama ada rambutnya?"
"Ini salah satu tanda perubahan dr anak-anak menjadi dewasa, Dek. Nanti Adek juga akan tumbuh rambut di ketiak jika umurnya sudah menuju dewasa."

Tambahan *contoh percakapan* orangtua-anak:

"Dulu waktu Ayah kecil, Ayah penasaran tentang........... Waktu itu Ayah tidak bisa bertanya ke siapa-siapa soal ini, malu. Ayah baru tahu pas sudah SMA. Sekarang kalau kamu merasa penasaran soal sesuatu, tanya saja sama Ayah. Ayah janji tidak akan marah sama pertanyaan-pertanyaan kamu πŸ˜ŠπŸ‘ŒπŸ»"

betul Mbaaa... terima kasih jawabanya πŸ€—

misal ke usia lbh lanjut, bertanya ttg mimpi basah, tentang perasaan ke seseorang, ttg gimana proses reproduksi sehingga ada anak...

usia baligh ini sih yg kepikiran bgt jd PR, adakah referensi yg ba dishare dlm menjawab tantangan2 yg sering dianggap tabu itu?

Jika anak bertanya, kita tenang dl, kendalikan diri, tarik nafas, dan cek pemahaman anak.

Lalu kita bs menjawab dg jawaban terbaik saat itu, tanpa dilebihkan atau dikurangi. Kemudian jika anak masih ingin tahu, baru kita memperbolehkan bertanya lg.

Referensinya ada di salah satu sumber bacaan kami:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2154055457954961&id=221502844543575


2⃣Bagaimana cara menjauhkan anak-anak dr pornografi ketika sedang memegang gadget terkait fitrahnya? Terkadang anak melihat gadget temannya yang tidak diawasi ortunya di sekolah dan anak tanpa sadar telah menonton pornografi.
Jawab:

1. Yang paling *utama* adalah menanamkan pemahaman tentang agama sedini mungkin. Dalam hal ini mengajarkan agama tidak sekedar anak menjadi bisa, misal bisa baca/hafal alquran, orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu

2. Menguatkan *bonding* antara orangtua dan anak seperti yang pernah di bahas di presentasi2 sebelumnya. Menjalin dan menjaga bonding dengan anak ini sangatlah urgent karena dengan ikatan yang kuat anak akan bisa lebih 'mendengarkan' orangtua

3. Dengan *nilai agama yang baik dan bonding* dengan org tua yang baik pula diharapkan anak sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk

4. Kehidupan anak diluar ketika jauh dari orgtua bukanlah 'kuasa' kita untuk mencegahnya. Selain tentunya berdo'a ke Allah agar anak-anak kita dijauhkan dari hal-hal buruk dan menjerumuskan, ikhtiar kita membangun *_value_* ke anak semoga dapat membuatnya lebih bijak dalam mengambil apa yang baik dan meninggalkan apa yang buruk.


3⃣ Tary
Bagaimana jika anak sudah terlanjur terpapar pornografi?πŸ˜”
Jawab:

Berikan pemahaman bahwa yg sudah ia lihat tsb bukanlah hal yg baik. Misal:
"Ma, td aku lihat video orangnya tdk pakai baju."
"Wah, Adek lihat dimana?"
"Di HP temen waktu istirahat sekolah tadi."
"Apa yg sdg orang di video tsb lakukan, Dek? Koq ga pakai baju."
"Iya, td Adek lihat yg laki2 buka pakaiannya di depan perempuan."

Duh, naudzubillah min dzalik (sambil elus dada) 😭

Tenang dl Bun, tenang. Lalu kita jawab:
"Wah, ga boleh itu Dek, kita lihat video spt itu. Adek aja kl buka baju menyembunyikan diri kan ya dr orang lain. Lain kali tdk boleh lg lihat video spt itu. Kl diajak teman, jgn mau lagi. Adek main sama teman lain yg baik saja. Atau lapor Bu Guru."

Kita jg bs komunikasikan dg gurunya di sekolah, Mba
Menurut kami yang perlu dilakukan awalnya adalah tetap *tenang*.........................................................kemudian ajak diskusi hangat, minta anak menceritakan pengalaman dan pendapatnya dan kita dengarkan seutuhnya, dengarkan dan dengarkan, kemudian bisa ingatkan dengan 'value' agama dan 'value' keluarga, jelaskan konsekuensi dari paparan pornografi dan 'value' yang tidak terjaga, untuk kasus paparan pornografi yang sudah berat jangan ragu untuk berkonsultasi ke ahlinya (psikolog dan tenaga ahli lainnya)


4⃣ Marisa
Era digital ini mempunyai 2 sisi. Baik dan buruk. Sehingga saya sebagai orangtua terkadang merasa parno. Apakah mengizinkan anak mengakses internet  atau memberi batasan (misal saat ini anak boleh mengakses internet, hari sabtu dan minggu. Maksimal 1 jam). Padahal temans sebayanya sudah diberikan fasilitas internet tanpa batas.

Saya ingin bisa disiplin, namun dengan kasih sayang kepada anak. Memberi batasan yang tegas, tanpa terkesan kaku dan galak kepada anak.

Kiatnya bagaimana ya ?
Jawab :

Betul mba, ada 2 sisi mata pisau ya dan kita orangtua musti aware.

Kebijakan mba marisa membatasi penggunaan gadget kami rasa sudah merupakan bentuk 'sayang' ke anak, kembali lagi ke 'value' yang ada di keluarga mba Marisa 😊

Mungkin keluarga lain memiliki 'value' yang berbeda, dan bisa jadi berpotensi mempengaruhi 'value' anak kita ketika berada di lingkungan teman2nya

Mungkin yang bisa jadi pertimbangan adalah seperti jawaban poin 2⃣ di atas mba sebagai bentuk ikhtiar kita membangun imun anak mengambil hal baik dan meninggalkan yang buruk. Karena suatu saat memang mereka akan memiliki kehidupannya sendiri, berjuang sendiri di luar sana tanpa ada kita orangtua di dekatnya 😒 *jd melow

Sedikit tambahan..

Mengenalkan batasan kepada anak sangat penting agar anak dapat mengetahui hal yang boleh dan tidak...tentunya harus disertai dengan penjelasan..

Misal:
Gadget hanya boleh 1 jam saja agar kesehatan mata terjaga lalu anak bisa dialihkan untuk kegiatan lain

Dan yg terpenting stl diberikan penjelasan, batasan tsb disepakati semua pihak.

Kita jg sbg ortu hrs konsisten. Tegas bkn berarti tega/tdk sayang


5⃣ wenti
Terima kasih materinya. Mau tanya ya. Menurut kelompok 10, kepercayaan yg seperti apakah yg bisa diberikan kepada anak dalam menghadapi era digital?  Terutama jika kelak anak sudah aqil baligh, masuk usia remaja dan mengenal sosial media atau whatsapp misalnya. Apakah meminta password sosmed anak atau ngecek hpnya diam2 adalah sesuatu yg baik?

Bagaimana mengarahkan anak agar menggunakan sosmed dg bijak? Krn sekarang saja banyak sekali trend tak penting yg dilakukan remaja di media sosial. Dan anak bs terlanjur ikut ikutan sekalipun buat iseng.
Jawab:

Memberikan kepercayaan tentunya stl kita menanamkan value yg baik dlm keluarga ya mba. Boleh keluar rumah (tdk diam di rumah saja), bergaul dg berbagai macam orang, sampai rumah apabila anak bercerita kita dengarkan terlebih dahulu (tdk menjudge). Memperbolehkan punya gadget/media sosial sesuai usia. Misal FB min 13 tahun. Izin meminta password bila diperbolehkan atau saling berteman, jd kita tahu apa yg di-post anak. Kl diam2 sebaiknya jgn. Hargai privasi anak. Kl mau ngecek buka password yg sdh diberikan, blg dl.

Bgmn mengarahkan spy bersosmed yg baik?
1. Jdlah teladan, ortu jg harus bijak terlebih dahulu dlm pemakaiannya.
2. Beritahu apa sebaiknya yg boleh dan tdk boleh di-post. Misal yg tdk boleh di-post: no telp, alamat lengkap, dsb
3. Tetap memantau. Jika ada post yg tdk baik, bertanya dl maksud post-nya, dan berikan pengertian post tsb tdk baik

6. yopi tessa
Bagaimana kalau anak dirumah sudah dibatasi dlm gadget.
Tapi ternyata diluaran, suka ke warnet, main game, krn teman2 pada seperti itu. Sudah bbrpa kali diberikan pengertian, malah sembunyi2. Bagaimana menyikapinya? Anak usia 11 tahun.
Jawab:

- Diberikan alternatif kegiatan positif yg lain. Bs mengaji olahraga, musik, seni, dll
- Dikuatkan family time-nya. Atau misal kegiatan dg salah satu orang tua: nge-game sama Ayah tp game yg bermanfaat, didampingi saat main game


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

*Kesimpulan*

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, terutama tentang seksualitas dan di era digital ini anak-anak dapat dengan mudahnya mencari informasi, sehingga rentan mendapatkan informasi yang salah atau yang tidak sesuai dengan tingkat pemahaman dan umurnya. Sedangkan orangtuanya masih tabu dan kelu untuk membicarakan seksualitas.

Memang, bicara seputar seksualitas dengan anak adalah momen yang sangat canggung tetapi pengetahuan seksualitas yang mumpuni dan keluar dari tabu adalah modal awal orang tua untuk menjelaskan tentang seksualitas.

Pastikan bahwa kita orang tuanya adalah sumber pertama dan utama yang siap menjawab dengan pengetahuan yang benar dan terpercaya anak dalam memahami seksualitas.

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Kami, Kel 10: Erna, Fasta, Nika, Ajeng pamit yaa 😘😘😘
Wasalamualaikum wr wb


#Day10
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mastermind & False Celebration

  Assalamualaikum wr wb Jurnal terakhir di Bunda shalihah, saat nya kami melakukan false Selebration dan memaparkan mastermind.  Berikut ini...